Hari-hari pada minggu pertama ini memang akan menjadi pertanda walau bukan patokan akan seperti apa Mari Menonton ke depan. Walau FKY baru berlangsung tiga hari dan pengunjung belum banyak yang tahu, Mari Menonton telah kedatangan cukup banyak pengunjung. Dari yang hanya celingukan, bertanya, mengambil jadwal, hingga akhirnya memutuskan untuk menonton.
Awalnya sempat diragukan apakah film-film yang disuguhkan akan mendapat reaksi yang cukup baik karena sempat terjadi kesalahan judul film di news letter FKY. Namun, pengunjung ternyata lebih penasaran dengan film-film yang tercetak di newsletter Mari Menonton. Dari pada menanyakan film-film popular yang telah terlanjur tercetak, seperti Mengejar Mas Mas dan Anna Van Jogja.
Peminat setiap film pun beragam, baik jumlah maupun segmen, Enam Jam di Jogja misalnya. Film yang diproduksi tahun 1951 ini ternyata mendapat sambutan yang positif. Untuk seminggu dengan tiga kali tayang, penonton mencapai angka enam puluh orang. Sebagian besar yang menonton malah anak kuliahan. Gambar yang masih hitam putih, kualitas suara yang tidak terlalu jelas, dan tema yang tidak terlalu popular tak mengurungkan niat mereka untuk menikmatinya. Hari-hari pertama memang panitia bermasalah dengan sound system, selain memang dvd film ini kualitasnya kurang baik. Mungkin Jogja sebagai latar membuat film ini jadi menarik. Banyak penonton yang sibuk menerka-nerka di mana film ini berlatar dan terlihat seperti apa Jogja tahun 1951.
Cintaku di Kampus Biru malah memberi kesan tersendiri. Film ini memang lebih popular dibanding yang lain. Film yang berlatar di Universitas Gadah Mada ini pada hari kelima, tepatnya sabtu malam, tiket sampai terjual habis., yaitu
Diantara tiga film panjang yang dihadirkan, Penginapan Bu Broto adalah yang paling sepi peminat. Jumlah penontonnya hanya mencapai 16 orang. Film yang dibuat berdasarkan serial Losmen televisi ini sebenarnya bergenre komedi tapi entah mengapa penonton tak terlalu tertarik, mungkin karena tak terlalu banyak sisi Jogja yang bisa dilihat.
Sisanya, Mari Menonton menyajikan kompilasi Fourcolours Films, rumah produksi yang film-filmnya terasa sangat Jogja. Layaknya sebuah kode etik jurnalisme, cover both side, film-film ini disajikan sebagai pembanding. Empat film yang diputar, yaitu Mayar, Bedjo Van Deerlak, Harap Tenang
Namun, ada yang lebih menarik dari film-film yang disajikan, selain angka-angka jumlah penonton., yaitu representasi Jogja dalam film-film tersebut. Sepanjang film-film ini diputar, film-filmnya jadi sangat terasa tidak Jogja. Persoalannya sederhana, film yang baru-baru ini, yang banyak beredar di bioskop mencitrakan Jogja dengan sangat berbeda. Dalam film-film Mengejar Mas Mas ataupun Otomatis Romantis, semuanya sepakat bahwa apapun yang berhubungan dengan Jogja akan berakhir pada lugu, ndeso, dan medok. Bahasa Jawa atau logat medok jadi keharusan setiap menampilkan Jogja. Namun, pada film-film panjang yang diputar, tak terdengar logat-logat itu. Bila penonton jeli, akan sangat terasa bahwa film-film ini tak merasa bahwa medok dan ndeso adalah identitas mutlak
Seminggu telah berlalu. Beberapa penonton mungkin telah lupa bagaimana cerita film-film tersebut atau siapa nama tokohnya. Namun, suatu saat, ketika seseorang akan membuat film dengan Jogja sebagai latarnya, mungkin ingatan tentang film-film itu akan kembali. Penonton akan kembali mengingat bahwa ada film yang bisa mencitrakan Jogja dengan cara yang berbeda. Tak seperti orang yang sibuk bertanya di mana letak persis latar atau lokasi syuting film-film tersebut, citra Jogja sebenarnya adalah yang lebih penting dari segalanya. Karena ketika bicara Jogja, kita tidak akan hanya bicara tentang alamat, namun juga budaya, tradisi, dan kembali lagi citra.
No comments:
Post a Comment