Daily is NOT fairy

Pekan kedua Mari Menonton adalah milik para pecinta dokumenter. Dengan mengusung tema “Daily is Not Fairy”, Mari Menonton menyajikan film-film dokumenter sebagai program utama.

Mari Menonton; Dari Amerika sampai Banyumas

Minggu kedua dibuka dengan pemutaran perdana film dokumenter karya Tonny Trimarsanto berjudul “In the Shadow of Flag”. Film ini bercerita tentang kondisi Timor Leste 5 tahun setelah kemerdekaannya dari Indonesia dari mata dua orang aktivisnya, Maria dan Thomas. Mereka adalah aktivis yang mendorong kemerdekaan Timor dan saat ini, mengambil sikap kritis terhadap pemerintah yang mereka perjuangkan. Masalah-masalah politik, keamanan, pengangguran, dan kesejahteraan menjadi perhatian utama. Bagaimana sebuah kemerdekaan tak menjadi akhir sebuah perjuangan namun ternyata adalah awal dari segalanya. Bekerjasama dengan Progressio, sebuah lembaga sosial masyarakat dari Inggris yang bekerja untuk keadilan dan pengentasan kemiskinan, film ini dibuat murni sebagai bahan pembelajaran.

Setelah libur satu hari, sisa minggu kedua ini diisi Mari Menonton dengan kompilasi film-film dari beberapa negara dan daerah. Ada film dokumenter dari Amerika dan kompilasi film dari Prancis, Jakarta, dan Banyumas. Hari pertama adalah pemutaran film dokumenter asal Amerika yang berjudul “The Cats of Mirikitani” karya Linda Hattendorf. Dengan durasi tujuh puluh empat menit, Linda menyuguhkan cerita seniman tua yang begitu kecewa dengan pemerintah Amerika.Film dokumenter ini bercerita tentang Jimmy Mirikitani, seorang keturunan Jepang yang terpaksa tinggal di kamp Tule Lake ketika perang dunia II. Jimmy yang sebenarnya warga Negara Amerika terlanjur kecewa dengan perlakuan pemerintah Amerika hingga, setelah ia dibebaskan, ia tak ingin memulihkan status kewarganegaraannya atau hak-haknya sebagai warga negara. Linda, sang film maker bertemu dengannya dan mulai membantunya.

Film koleksi FFD ini memang lain dari film dokumenter Amerika yang biasa dinikmati, seperti Inconvenient Truth karya Algore atau Psycho karya Moore.

Pemutaran dilanjutkan dengan kompilasi bertajuk “9808”. Kompilasi ini merupakan antologi film 10 tahun reformasi Indonesia. Film pendek yang berjumlah sepuluh ini merupakan karya dari banyak sutradara film pendek terkenal dan terbaik yang dimiliki Indonesia. Nama-nama tersebut adalah Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Wisnu SP, Ucu Agustin, dan Steven Pillar. Selain dokumenter, beberapa film juga merupakan fiksi. Beberapa digarap sangat sederhana, hanya dengan foto atau gambar percakapan beberapa orang. Contohnya adalah Dimana Saya? Yang hanya menampilkan foto dengan suara Narator masing-masing tokoh. Film ini menceritakan di mana para tokoh dan apa yang mereka kerjakan saat tragedi Mei terjadi. Beberapa adalah film cerita, seperti Huan Chen Guang karya Ifa Isfansyah dan Trip to the Wound karya Edwin. Walau dinaungi oleh satu tema, film-film kompilasi ini punya rasa yang berbeda-beda. Beberapa sangat sedih, menohok, namun juga ada yang ringan, dan menghibur namun tetap kritis. Salah satu contohnya adalah film Ariani Darmawan berjudul Sugiharti Halim yang banyak mengundang tawa. Berbeda dengan durasinya yang pendek, film-film ini memberi kesan yang mendalam dan sarat isi dan makna.

Hari terakhir minggu kedua ini ditutup oleh dua kompilasi, yaitu Ngapak Attack dan Courts de Recre. Ngapak Attack merupakan kompilasi dari film-film yang diproduksi oleh film maker Banyumas dan tentang Banyumas. Film-film ini juga tak semuanya dokumenter, beberapa fiksi. Kompilasi Banyumas ini memberikan nuansa berbeda dengan ciri kedaerahan yang kental. Sedangkan Courts de Recre adalah kumpulan film pendek anak-anak Prancis koleksi Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta.

Lokakarya Dokumenter, Ada Banyak Cara Bercerita

Hari kedua dan ketiga, bekerjasama dengan Komunitas Dokumenter, Mari Menonton mengadakan lokakarya Dokumenter, dengan tajuk “Metode Penceritaan dalam film Dokumenter.” Lokakarya ini dibuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya. Peminatnya pun cukup banyak, kebanyakan memang dari komunitas film. Henny, direktur Festival Film Dokumenter mengatakan bahwa lokakarya ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan para pembuat film dokumenter. “Lokakarya ini berangkat dari kurangnya referensi para peserta yang berkompetisi di FFD dalam metode penceritaan.” Henny menambahkan bahwa kebanyakan hanya menggunakan cara standar, yakni investigatif dan Voice Over. Padahal, banyak cara lain yang bisa dilakukan, seperti sinema Veritè (metode pengambilan gambar yang lebih dinamis), dll.

Lokakarya ini menampilkan dua pembicara, yaitu Budi Irawanto dosen Komunikasi UGM dan Sandeep Ray, seorang pembuat film dokumenter yang berasal dari India. “Kebetulan ia sedang menempuh program master di UGM. Hingga bisa kita undang kesini untuk jadi pembicara.” Ungkap Henny saat ditanya bagaimana Sandeep bisa menjadi pembicara. Sandeep sengaja dipilih untuk memberikan gambaran lebih luas tentang model penceritaan. Banyak cara lain dan setiap sineas memiliki kecenderungan yang berbeda. Kita memang kurang referensi, tambahnya. Hal ini disebabkan sedikit dan kurang populernya film dokumenter. Bisa dihitung dengan jari berapa banyak film dokumenter yang masuk bioskop atau dvdnya yang beredar.

Selama diskusi terjadi, peserta banyak disodorkan pengalaman nara sumber dalam menentukan metode dan cara apa yang bisa dipakai. Peserta juga antusias dan semangat walau kendala bahasa masih dihadapi. “Kami ingin agar film dokumenter tidak membosankan dan bisa jadi tontonan yang populer dan dinikmati banyak kalangan.” Kata Henny saat ditanya apa sebenarnya tujuan akhir dari lokakarya ini.

: Corry E.

No comments: