Pendek dan Segar : Memasyarakatkan Film Pendek

Dua hari dalam minggu ketiga ini diisi dengan acara tentang distribusi film pendek. Pada hari selasa, tanggal 24 Juni 2008 ada peluncuran dan diskusi dvd koleksi The Marshall Plan (TMP), distributor film alternatif. TMP sebenarnya telah mengeluarkan produk mereka sejak bulan Februari namun memang tak ada peluncuran secara fisik. “Ketika Mari Menonton mengusulkan untuk melakukan peluncuran serta diskusi, kami mengiyakan.Ujar Dimas Djayasrana, salah satu pendiri TMP.

Sejauh ini TMP telah meluncurkan dua DVD, yaitu Repelita I dan Kompilasi Pemenang Festival Konfiden 2006 sejak Februari dan telah terjual 300 keping sejauh ini. Mengenai sistem distribusi, Selama ini TMP mempublikasikan produknya lewat mailist dan menjualnya melalui event-event dan penjualan langsung.

Bagi TMP, produk-produk pertama mereka ini hanya sebagai perkenalan jadi mereka belum begitu memikirkan soal untung. Namun, Dimas menambahkan bahwa ini adalah bisnis yang serius karena mereka tidak ingin berhenti sampai disini. Harapannya TMP bisa terus mendistribusikan film-film pendek Indonesia. TMP berdiri atas alasan apresiasi terhadap sineas film pendek Indonesia yang filmnya selama ini dianggap tidak memiliki nilai jual. Film pendek juga belum punya tempat di ranah distributor besar yang kebanyakan mendistribusikan film panjang. Oleh karena itu, TMP berharap setelah ini akan lebih banyak lagi film-film pendek didistribusikan ke masyarakat hingga lebih banyak yang mengapresiasikannya.

Hari rabunya, Mari Menonton kembali mengadakan diskusi dengan tema Short Films for Sale. Seminar yang dihadiri oleh belasan orang ini dari berbagai kalangan berusaha untuk memberikan wacana tentang kemungkinan penetapan ongkos pemutaran (Screening Fee) dan pembelian hak pemutaran (screening rights) bagi film pendek Indonesia. Seminar ini menghadirkan tiga pembicara, Ronny P Tjandra dari Jive Collection, Dimas Djayasrana, dan Senoaji Julius dan Eddie Cahyono dari Fourcolours Films. Ketiga pembicara ini adalah orang yang bergerak di ranah distribusi film. Ronny P Tjandra adalah distributor yang bergerak di arus utama dengan bendera Jivenya, Dimas dari The Marshall Plan, sedangkan Seno dan Eddie adalah sineas yang sekarang sedang mengusahakan filmnya untuk didistribusikan dalam bentuk kompilasi.

Seminar yang dimulai agak terlambat dari jam semestinya ini cukup menarik. Dunia pendistribusian yang selama ini tertutup dan tak banyak diketahui orang terungkap juga masalah di dalamnya. Dihadirkannya ketiga orang yang secara langsung terlibat dalam dunia distribusi namun dengan ranah yang berbeda memberikan gambaran yang lengkap bagi peserta.

“Logikanya sama seperti grup band. Bila diundang dalam satu acara, pasti ada bayarannya, berapapun itu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.” Ujar Dimas di waktu seminar saat membicarakan mengapa ongkos pemutaran harus diberlakukan. Seno dari Fourcolours juga menambahkan bahwa biaya pemutaran tidak hanya berupa uang namun juga bisa berupa laporan. Bila ada laporan, sineas bisa tahu respon penonton dan itu baik bagi di sineas untuk karya kedepannya.

Seminar yang berlangsung selama dua jam ini bertujuan untuk menyadarkan tidak hanya masyarakat atau pihak pemutar namun juga para sineas tentang nilai apresiasi sebuah karya.

:Corry E.

No comments: